Gerhana Bulan Total Terlama 28 Juli Dapat Dilihat 100 Tahun Lagi

Bagikan Informasi

Sabtu (28/7) dini hari, masyarakat Indonesia telah menyaksikan Gerhana bulan total langka dengan fase totalitas terlama pada abad ke-21. Fenomena langka ini akan kembali dijumpai pada 2123.

Gerhana telah berlangsung selama 3 jam 55 menit dengan gerhana total selama 1 jam 43 menit. Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Ir. Muhamad Sadly, M.Eng menjelaskan fenomena alam kali ini merupakan fenomena langka untuk masa hingga 100 tahun ke depan.

“BMKG sebagai institusi pemerintah, akan memberikan informasi peristiwa Gerhana Bulan Total (GBT) 28 Juli 2018, yang merupakan gerhana bulan total terlama pada abad ke-21,” ujar Muhammad Sadly.

Menurut Sadly, jika dilihat dari siklus, gerhana bulan dengan fase totalitas terlama akan kembali terjadi 100 tahun mendatang, yakni 9 Juni 2123. Hal ini serupa dengan super Blue Blood Mood pada Januari lalu, yang akan terulang 100 tahun kemudian.

“Ini merupakan kali kedua fenomena gerhana bulan langka yang mampu diamati di Indonesia,” ujarnya.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (28/7), fenomena alam dengan waktu yang cukup panjang dikarenakan lintasan pada bulan saat itu hampir mendekati garis tengah lingkaran bayangan gelap (umbra) bumi , sehingga bulan akan berada dalam bayangan tersebut dalam waktu yang relatif lebih lama.

Layaknya gerhana bulan pada umumnya, gerhana dini hari tersebut dapat disaksikan dengan mata telanjang, tidak perlu menggunakan kaca mata seperti saat gerhana matahari.

Tak jarang momen yang begitu langka ini, telah ditunggu-tunggu dan diabadikan oleh masyarakat di belahan dunia. Dari Pantauan Sabtu (28/7), banyak netizen yang mengunggah foto hasil jepretannya dan juga video gerhana bulan merah darah dengan menyertakan hastag gerhana bulan total. Kini hastag gerhana bulan total menjadi trending topic di Twitter.

Begitu juga di Australia, rela membayar untuk menyaksikan gerhana dari Observatorium Sydney sebelum matahari terbit.

“Tiket kami terjual habis, ada ratusan orang yang datang untuk menontonnya bersama kami,” ujar Andrew Jacob, kurator di Observatorium Sydney, dikutip dari Reuters, Sabtu (28/7).

Gerhana sepenuhnya juga akan kembali terjadi pada 2022 yang terlihat dari Eropa, Rusia, Afrika, Timur Tengah, sebagian besar Asia dan Australia. Namun pada tahun tersebut durasi gerhana bulan yang ditampilkan tidak selama pada Jumat (28/7) dan pada tahun 2022. (Sumber:Uzone-Kumparan/PFM)